.fb_like_box { -moz-border-radius:5px 5px 5px 5px; border-radius:10px; background:#f5f5f5; border:1px dotted #ddd; margin-bottom:10px; padding:10px; width:500px; height:20px; }

Entri Populer

Minggu, 05 Februari 2012

Senyuman....



“Rackaaa...”teriakkanku yang histeris membuat para pelayad di makam itu menoleh kearahku yang baru saja datang. Air mataku tumpah ruah. Aku berlari menuju pemakaman itu. Tanahnya masih sangat basah saat ku sentuh karena baru saja beberapa menit yang lalu kuburan itu tertutup oleh tanah. Gerimis hujan dan mendungnya awan seolah mewakili kesedihanku. Penyesalan yang teramat dalam sungguh ku rasakan setelah dia pergi. Racka Ramadhan, adik tiriku. Anak berusia 17 tahun yang mengajariku arti sebuah senyuman.
Aku Leandra, wanita keras dan sangat jutek setidaknya itulah penilaian orang tentang aku. Aku seorang pengacara, usia ku sudah 27 tahun. Sejak kecil aku hidup dalam keadaan broken home. Ayahku Bramana Santoro sering sekali menikah siri. Bisnis yang melaju pesat merubah ayahku jadi seorang pria yang serakah dan kasar. Ia bahkan berani menikahi beberapa wanita dan berterus terang pada ibuku. Meski ibu satu-satunya istri syah dari ayah tapi sikap ayah tak sedikitpun memperlihatkan rasa kasih dan sayangnya pada ibuku yang telah menemaninya saat susah maupun senang. Sampai ibuku meninggal karna sakit hati yang tak berujung yang selalu di alaminya. Bertahun-tahun aku hidup dalam kebencian terhadap ayahku dan para istri-istri sirinya. Hingga usiaku yang ke 27 tahun pun ayah tak peduli padaku, bahkan untuk sekedar mencarikan ku seorang jodoh seperti yang di lakukan para ayah pada umumnya. apalagi di usiaku yang sudah matang ini, tak ada sedikitpun kekhawatirannya untukku . dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Setiap malam saat aku pulang kerja, aku hanya bisa menangis sendiri di sudut kamarku merenungi nasibku ini. Tak pernah ada senyum di setiap hariku yang kelam ini. Bahkan aku lupa kapan terakhir aku tersenyum.
2 minggu yang lalu...
Hari dimana aku mengenal sosok Racka...
“akhirnya kamu keluar kamar juga...”kata ayah sambil menoleh kearahku yang baru membuka pintu kamar. Aku melihat dua orang asing berada di meja makan dengan ayah, ayah melambaikan tangan ingin aku menghampirinya. Lantas ku hampiri mereka. Dua orang itu berdiri, dan tersenyum padaku. “perkenalkan ini, Lestary istri syah ayah dan Racka anaknya...” perkataan itu sontak membuatku terkejut bukan main. Bukannya hanya ibulah istri syah ayah, meski ibu sudah meninggal tapi bisa semudah itukah ayah menggantikan posisi ibu??? Rasanya tenggorokanku tercekik karena menahan tangis. Kenapa tak sedikitpun ayah menghargaiku sebagai putri kandung satu-satunya peninggalan ibu. Aku berusaha melawan rasa sakit hatiku sehingga kadang-kadang membuat lidahku mati rasa.
“selamat pagi, kamu Lea kan? Kamu cantik sekali.”sapanya dengan senyuman hangat. Tapi rasanya tak ingin aku membalas senyuman yang mungkin palsu itu.
“akhirnya Racka punya kakak yang cantik juga...kak Lea mau berangkat keja ya? Racka pengen loh jadi pengacara...”tambah anak yang sok akarab itu. Namun tak ku gubris mereka aku hanya menatap sinis ayahku.
“aku ada kerjaan...aku sarapan di kantor aja!”kataku sambil membalikan badan dan meninggalkan mereka tanpa salam.
“Lea...!”seru ayah.
“gak papa kok mas, lagian Lea mungkin masih merasa kaget.”jawab wanita itu. Tak lama Racka mengejarku dengan sekotak tempat makanan.
“ini roti panggang buatan mama aku. Enak loh ka, sebaiknya kalau bekerja sarapan dulu!”katanya sambil mengembangkan senyum yang menjijikkan itu.
“gak usah terimakasih...”jawabku singkat sambil masuk ke mobil tapi dia ikut memasukan kotak itu lewat jendela mobil. “jangan lupa di makan ya kak!!!”dia kembali kedalam sambil tertawa.
“sok kenal banget sih...”
***
Malam pun tiba....
Hal yang paling aku benci dimana aku harus pulang untuk menemui ayahku dan sekarang dengan dua orang penghuni baru. Ketika sampai di depan pintu saja rasanya sudah sangat menyebalkan. Terdengar canda tawa dari dalam ruangan. Aku pun masuk, tak pernah ayah memperlakukan aku dan ibuku seperti itu. Bahkan ia tampak bahagia berbincang dengan Racka yang penuh humor.
“eh...kak Lea pulang...sini kak, ngobrol bareng kita papa lagi cerita soal masa SMA...!!!”Racka melambaikan tangan. Ayah tampak canggung mendengar Racka memanggilnya papa di depanku. Aku hanya menghela nafas dan memalingkan wajah dan pergi kedapur untuk sekedar minum air putih sepuasku untuk menghilangkan setres. Ku leguk satu botol air mineral yang ku ambil di dalam coolkas. Anak itu tiba-tiba ada lagi di hadapanku.
“mau aku pijit gak?”dia sungguh mengagetkanku. Lagi-lagi dengan senyumnya itu.
“ gak usah makasih.”jawabku.
“hmmm...mau coklat?”dia mengasongkanku sebuah coklat. Tapi aku melewati dia dan berjalan menjauh, tapi dia terus mengikutiku dan menyamakan langkah denganku. “coklat itu bisa bikin orang seneng loh!!!”aku pun menghentikan langkahku dan berbalik ke arahnya.
“kamu tahu apa yang bisa bikin saya seneng? itu saat di mana saya dan ibu saya adalah satu-satunya untuk ayah saya. Bukan coklat atau senyum kamu yang menjijikkan itu, ngerti kamu!!!”dia mengangguk dan segera melempar coklat itu ke tong sampah.
“aku hanya ingin liat kak Lea tersenyum...! senyum itu menyenangkan loh ka!”jawabnya. tapi aku tak tertarik untuk menggubrisnya, aku pun segera kekamarku.
***
Hari berganti begitu cepat sudah seminggu aku satu atap dengan mereka dan melihat senyum mereka yang membuatku jijik. Hari itu pertama kali aku sarapan dengan ibu dan adik tiriku. Suapan demi suapan terpaksaku masukan ke mulutku meski ingin sekali ku muntahkan di hadapannya. Sangat terlihat ibu tiriku itu berusaha berbuat baik padaku.
“enak gak masakannya? Mama berusaha cari tahu makanan kesukaan kamu dari bibi. Mama harap kamu suka.”cetusnya.
“sudah pasti enak donk mah...”ayah menjawabkannya untukku.”betulkan Lea?”
“rasanya agak hambar.”kataku sambil meminum air putih yang ada di hadapanku. Semuanya menatap kearahku.”kenapa? memang hambar kok...nanti biar tante bisa lebih enak lagi masaknya seperti ibu aku.”
“ehmmm...”Racka ikut minum air putih. “emang agak hambar mah, besok masak ini lagi aja bikin yang lebih enak.”
“gak usah aku udah gak selera.”kataku smabil memasuki kamar di hari minggu itu.
Tak lama berselang setelah sarapan...ada kegaduhan di ruang tamu, seperti ada yang di bongkar, aku pun keluar dan memastikan apa yang terjadi. Saat aku tiba, ibu tiriku sedang menunjuk-nunjuk ayah untuk memasang lukisan baru dan lukisan yang lama di gletakan begitu saja di lantai.
“apa-apaan ini?”bentakku.
“eh...Lea, ini mama nyuruh papa kamu ganti lukisan yang lama, karena sepertinya memang sudah lusuh dan tua sekali. Kebetulan kemarin mama liat lukisan bagus jadi kita ganti.”jawabnya.
“gak bisa. Apa hak anda menggeser lukisan itu dengan yang baru.”bentakku lagi.
“saya hanya merasa itu sudah tua.”jawabnya.
“Lukisan itu belum setua usia anda. Jaga mulut anda! Sampai matipun lukisan ibu saya harus tetap di sana!”wanita itu terdiam sambil memegangi dadanya dan berlari kekamar, ia menangis. Ayah pun turun dan menamaprku, mendengar ribut-ribut Racka segera menghampiri kami.
“yang harusnya jaga mulut itu kamu Leandra!”teriaknya. “usia kamu sudah dewasa tapi sampai kapan kamu bersikap kekanak-kanakan seperti ini.”
“ayah nampar aku? Ini pertama kalinya ayah nampar aku. Setiap kali ayah menikah siri apa aku penah menentang ayah? Bahkan setiap kali ayah menyakiti ibu aku hanya bisa diam. Tapi kali ini ayah keterlaluan. Ayah bisa dengan mudah melupakan sosok orang yang sudah menemani ayah susah maupun senang. Semudah itu ayah bawa dia kemari dan mengganti lukisan ini. Dimana perasaan ayah? Dimana rasa kasih sayang ayah buat ibu...buat aku?”teriakku. ayah pun meninggalkan aku dan masuk kekamarnya. Racka tiba-tiba memelukku dan membelai-belai punggungku. Ia sangat memahami sekali saat itu yang aku butuhkan adalah orang yang menenangkan aku. Aku dengan segera melepasnya.
“apa-apaan kamu!!! Gak usah sok baik sama saya!”bentakku. Racka tersenyum, dia pun melap air mataku dengan tisu. “kamu tuh cuman bisa senyum yah!!! Aku benci sama senyum kamu itu!”
“kenapa? Senyum itukan ibadah? Apalagi senyum yang bisa angajak orang ikut senyum. Kakak pasti cantik deh kalau senyum! Ikut aku yuk!!!”sambil menggenggam tanganku dan menarik aku ke halaman depan. Kami duduk berdua di ayunan.
Beberapa menit berlalu, kami hanya diam di ayunan itu memandangi ikan-ikan di kolam yang lalu lalang.
“aku juga dulu gitu. Papa aku tuakang nikah, dia sangat kasar sama mama, sama aku juga. Aku pernah di lempar pas bunga.”dia memperlihatkan luka di balik telinganya. “sakit banget, bahkan sampe sekarang aku masih suka pusing-pusing gitu kak. Tapi bagi aku sekasar-kasarnya dia pada aku dan mama tak akan pernah merubah kodratku sebagai seorang anak baginya. Aku hanya bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Saat mama sedih aku juga hanya bisa hibur dia dengan senyuman dan menghapuskan air matanya. Hingga mereka pun bercerai dan mama mengenal ayahnya kak Lea, mama menjadi sangant senang dan kembali bersemangat. Jadi tersenyumlah, anggap semua baik-baik saja. Karena saat kita tersenyum kita seolah menemukan energi positif dan beban kakak akan berkurang. Setidaknya ketika senyum kita membuat orang lain senang kita juga dapat pahala.”dia tersenyum manis seolah ada magnet yang menarikku untuk tersenyum juga tapi ku tahan. Hatiku rasanya sedikit tenang. Tak ada yang menasehatiku selama ini. Aku tak punya banyak teman. Karena bagi mereka aku hanyalah wanita yang keras dan tak bisa di ajak ngobrol. Bahkan untuk sekedar menyapaku mereka berfikir beribu-ribu kali. Tak ada yang memperhatikanku bahakan hanya sekedar memelukku saat aku sedih. Kenapa harus adik tiriku yang memberi perhatian seperti ini.
Setiap hari aku selalu melihat senyum cerianya hingga terkadang aku tak bisa menahannya dan ikut tersenyum. Dia selalu memujiiku saat aku tersenyum, bahkan aku tak ragu lagi menjawab sapaannya yang terkadang menggelitik.
“kakak mau kemana?”dia mencegatku saat dia melihat aku memasukan koper ke dalam bagasi mobilku.
“aku ada kerjaan di Malang.”jawabku.
“emh...tadinya hari ini aku mau ajak kakak maen.”jawabnya. aku tersenyum meski sedikit-sedikit.
“mmmm...gimana kalau aku anter?”tanya dia.
“emang kamu bisa mobil?”tanyaku.
“bisalah...”jawabnya.”itumah kecil. Kakak udah pamit sama ayah?”tanaya dia. Aku menggeleng. “pamit dulu donk kak, biar selamat...!”
“gak usah...ya uadah ayo masuk!”kami pun masuk. Sepanjang perjalan menuju bandara rasanya terasa singkat, dia selalu mengeluarkan lelucon yang menggelitikku. Tawaku mulai lepas dia tampak sangat sanang meliahat aku tertawa lepas.
“kakak cantik banget kalau ketawanya lepas gitu.”katanya. aku merasa malu ketika Racka mengatakan itu. Aku rasanya punya semangat baru aku dapat suntikan semangat dari Racka. kami pun tiba di bandara. Racka terus menuntunku, entah mengapa aku tak ingin pergi dan melepas tangan Racka. Racka mulai dekat denganku beberapa hari ini, bahkan dia mulai tak canggung lagi menggandengku seperti kakaknya sendiri. Saat aku hendak masuk dia menarik tanganku.
“hati-hati ya kak!!! Kalau kakak pulang nanti, kakak harus baikkan ya sama ayah...jaga mama aku juga...”katanya.
“apa-apaan sih kamu...kamu tuh yang harus hati-hati...awas mobil aku lecet ya...!”aku pun masuk dia melambai-lambaikan tangannya. Entah mengapa aku betul-betul tak merasa tenang waktu itu sepanjang jalan menuju Malang aku hanya melamun memikirkan perkataan Racka yang seperti pesan. Tapi aku berusaha menutupi perasaanku itu.
Aku pun tiba setelah beberapa jam di hotel. Aku segera mengaktifkan handponeku. Beberapa panggilan dari nomor ayah tak sempat ku terima dan beberapa sms ayah yang baru ku buka.
“kamu di mana Lea? Racka kecelakaan dia bawa mobil kamu,kita sekarang sedang menuju rumah sakit.”segera ku buka sms yang laiannya.”Lea, Racka meninggal. Kenapa handpone kamu tidak aktif.”aku terkejut sekali. Harus bagai mana aku. Sementara waktu itu sudah larut malam. Aku coba menelpon untuk memesan tiket penerbangan tapi semuanya tidak bisa. Aku pun berlari, aku memberanikan diri pulang dengan bus. Aku sungguh tidak ingin hanya menunggu dan menunggu sampai hari esok tiba. Aku segera keluar dari hotel dan mencari taksi untuk menuju terminal bus. Sepanjang perjalanan rasanya aku tak bisa berfikir jernih aku berusaha untuk menegaskan pada diriku bahwa semua baik-baik saja.
***
Hingga saat ini aku hanya bisa terdiam di samping batu nisan dan membelainya memejamkan mataku berharap batu nisan ini adalah Racka. “Racka jangan tinggalin aku...”bisikku. entah mengapa rasa sakit ini begitu sama saat ibu meninggalkan aku. Tiba-tiba ibu tiriku menyandarkan kepalanya di bahuku.
“dia menabrak sebuah bus...mobilnya hancur, Racka pun terjepit. Saat orang-orang berusaha menyelamatkannya dengan membawa Racka kerumah sakit, di perjalanan Racka sudah meninggal. Saya sudah tidak mempunyai siapa-siapa sekarang. Saya harus bagaimana?”jelasnya sambil menangis tersedu-sedu.
Aku pun tisak bisa mengatakan apapun. Hanya bisa menghela nafas panjangku dan menghapus air mataku. Mengapa secepat itu dia pergi. Bahkan baru kemarini dia begitu dekat denganku. Aku pun memeluk ibu Tiriku, dia menyusupkan kepalanya ke dadaku. Ku belai pundaknya. Aku melakukan hal yang pernah Racka lakukan saat ia memelukku. Ku buang jauh-jauh dendamku. Dan berusaha merasakan betapa sulitnya merasa di tinggalkan. Aku memeluk orang yang dulu ku benci tapi Racka meninggalkan pesan untukku agar selalu menjaga ibunya dan berdamai dengan ayah, dan Racka meninggalkan pelajaran yang berharga untukku, untuk selalu tersenyum dan membuat orang-oarang di sekelilingku bahagia. Sungguh, aku menyesal belum sempat ku ucapkan terimakasih padanya. Lagi-lagi aku harus menelan penyesalanku. Mulai saat ini aku berjanji, akan selalu mengembangkan senyumanku, untuk semua orang. Senyum yang di wariskan adikku.

Selesai

Created by Evi Andriyani

Sabtu, 04 Februari 2012

MY NAME is AMINAH....

My Name is Aminnah...

Namaku Aminah Gedoa, seperti namaku yang jadul perpaduan jawa dan Ambon...tingkahku pun tak jauh beda dengan namaku. Rambutku ikal sampai tampak terlihat kribo, aku tak begitu tinggi, tubuhku cukup melar, aku berkulit hitam karena ayahku asli ambon namanya Leo Gedoa dan ibuku 100% jawa namanya Asih. Aku sudah tinggal di ambon sejak aku lahir. Usiaku 15 tahun, ini tahun terakhirku di Smp Ambon, pada awal aku masuk sekolah tak ada yang sudi berteman denganku. Bagi mereka aku hanya gadis perparas jelek yang membosankan. Tapi sejak kecil aku tak pernah permasalahkan itu, karena bagiku untuk apa kita memiliki teman yang tak bisa menerima keadaan fisik temannya.  papa selalu mengatakan.”jauhkanlah fikiran jelek dari kamu punya fikiran, kamu harus punya ketulusan barulah kecantikan itu akan muncul dari dalam kamu punya diri.”kata-kata itu selalu membuatku semangat, meski di sekolah hanya ejekan yang ku dapat, bahkan  teman-temanku memanggilku “Minahhhhh...item.”aku hanya tersenyum dan mendengarkan mereka lantas menjawabnya dengan senyum meski hatiku teriris-iris.
6 bulan pertama sekolah di smp itu keadaannya masih sama, aku hanya sampah bagi mereka. Setiap aku berjalan di hadapan mereka selalu ada saja kaki yang menghalangi langkahku hingga aku tersandung. “ukhhhhh...”keluhku sambil membersihkan lututku yang tak jarang terluka. Hanya keluhan  itu yang beraniku keluarkan dari mulutku. Tapi sering kali aku mengeluh pada papa, dia hanya bilang.”saat kau mengeluh karena mereka mengejekmu, mereka tak akan mencabut ejekanmu dan bersimpatik padamu. Maka teruslah tanamkan ketulusan, dan mereka akan memujamu.”lagi-lagi dia tak membelaku, ku coba bicara pada mamaku, dia hanya berkata.”papamu bilang apa ndok? ketika ia berbicara, maka itulah jawaban mama untuk mu!” sejak saat itu aku hanya bisa menelannya sendiri. Hingga setelah hasil UTS keluar, dan nilaiku berada di peringkat terakhir mereka semakin mengejekku. “sebetulnya kau itu apa lebihnya...”sambil tertawa mereka mengejeku. Kali ini aku tak bisa tahan lagi dengan ucapan mereka.
“ kau fikir hatiku sekuat baja yang bisa tahan dengan ejekan-ejekan kalian itu...aku jelek memangnya kenapa? Kita di ciptakan oleh Tuhan yang sama. Aku rasa Tuhan tak pernah permasalahkan itu. Lantas mengapa kalian sebagai makhluknya berani sekali menilai seseorang dari fisiknya!!! Akan ku buktikan pada kalian, siapa Aminah Gedoa...”seruku sambil mengangkat tangan mereka hanya menyuraki aku.
Semangatku memuncak sejak saat itu, aku yang malas belajar setiap hari aku belajar. Meski malas dan sulit masuk ke otakku yang beku tapi aku paksakan. Ejekan dari sobat-sobatku mulai berkurang. Setip hari mereka melihatku sangat bersemangat dalam hal apapun, mulai dari selalu tiba di sekolah paling pagi, membersihkan kelas, membantu membersihkan kantor guru, pindah duduk di depan meski harus sendirian, aktif bertanya kepada bapak guru.
6 bualan setelah itu, aku naik ke kelas 8 smp dengan nilai yang lumayan meningkat meski baru masuk 10 besar tapi bagiku itu prestasi. Aku cukup sulit mendapatkan itu. Ejekaan itu mulai musnah, guru-guru mulai menyukaiku karena aku sangat rajin, bahkan sering sekali aku mendapat pembelaan dari guruku saat sesekali mereka mengejekku. Setidaknya meski teman-temanku tak menyukaiku tapi masih ada guru-guru yang menghargaiku.
Akhirnya Tuhan mengirimkan ku teman di 2 bulan pertama aku kelas 8 smp, namanya Margaret Airory, dia awalnya termasuk gadis yang selalu mengejekku sampai pada akhirnya ibunya meninggal. Ia tahu kabar itu saat sedang di sekolah. Tak ada yang mau menemaniny pulang, tak ada yang mau menghentikan tangisnya saat dia menjerit histeris dikelas.  Dia pun pulang berlari menuju rumahnya aku sengaja tak berkata apapun, aku hanya mengikutinya dari belakang. Dia tiba dirumahnya dan menangis sendiri di sudut kamarnya, karena pintu rumahnya terbuka dan banyak sekali pelayad aku pun masuk dan menghampiri Margaret ke kamarnya yang juga terbuka lebar. Ia membungkukan kepala, aku pun menegakan kepalanya dan menghapus air matanya.
“mama mu pasti sangat sedih melihat kau menangis seperti ini...maaf aku mengikuti kau kemari. Maka marilah kita mendoakan mamamu...!”aku berdiri dan menuntun tangannya keluar dari kamar, tangis Margaret mulai lenyap karena aku terus menjadi sandarannya. Kami mendoakan mama Margaret dengan khusyu. Dari situlah sikap Margaret berubah padaku. Ia menjadi sangat baik dan selalu mengajaku bergabung dengan teman-temannya yang lain. Bahkan sejak saat itu Margaret yang cerdas selalu mengajariku cara belajar yang asik seperti apa. Waktu berlalu persahabatan kami semakin kental hingga saat ini, Rasanya aku enggan sekali berpisah dengan mereka karena mereka yang dulu telah mengejekku kini mereka memujaku dan berbondong-bondong ingin berteman denganku. Benar sekali papa bilang apa. Aku menyadari betul kini ketulusan adalah kunci menuju kebahagiaan dan keadaan fisik yang bagus tak selamanya menjamin kebahagiaan yang abadi. Saat kita merasa tulus melakukan sesuatu maka kita akan mendapatkan sesuatu itu dengan sangat mulia meski harus di bayar dengan sakit hati, tapi bagiku teman bukanlah saat teman senang lantas kita ikut senang dan menilai semua dari fisik tapi saat mereka sedih kita ada untuk mereka dan temani mereka dengan ketulusan, maka itu akan abadi.


...Selesai...

Created by
Evi Andriyani





Ikhlas Ku Untuk Suamiku


Ikhlas Ku Untuk Suamiku
‘”Mas Yusuf ini ke 30 hari kepergianmu Mas, entahlah hatiku masih sangat sakit.” Aku menaburi seluruh badan makam suamiku tercinta. 30 hari aku menjalani kehidupanku tanpa dia. Sosok suami yang sempurna. Ia sangat beriman, rupawan, dermawan, juga mapan. Semua orang selalu memujinya dan mengatakan aku adalah wanita paling beruntung telah mendapatkan pria seperti Mas Yusuf. Yah aku memang benar-benar beruntung. Ku telan ludah dalam-dalam mencoba menahan tangis menghadapi makam suami yang telah mendamping aku selama 3 tahun ini. “aku selalu ingin mencoba mengikhlaskanmu Mas, terlebih kita punya Fajar, anak tunggal kita, buah hati kita...aku selalu ingat saat-saat kau memanjakanku layaknya anak gadis yang haus akan kasih sayang. Kau berikan segalanya untukku, seluruh kasih sayangmu. Mas, aku juga ingat sekali rencana-rencana yang akan kita lakukan pada anak kita kelak. Apa yang sebaiknya aku lakukan saat ini? Sungguh aku merasa tersesat tanpa bimbinganmu mas...”kini aku benar-benar menjatuhkan air mataku. Sungguh aku tak bisa membendung semua ini, selalu aku coba tersenyum menghadapi semua orang yang datang menemuiku dan mengatakan bersabarlah, tapi malah luka yang aku rasa. Setiap kali putraku M. Fajar Khairul Yusuf menangis memanggil-manggil ayahnya yang selalu memanjakannya hatiku rasanya berkeping-keping, Mas Yusuf mempunyai segudang trik membuat Fajar kembali tertawa. Kehidupan kami sangat cukup, sangat bahagia dan tentram. Perjuangan cinta kami juga sangat berliku. Sebelumnya aku bukanlah seorang muslim, bahkan wajahku saja oriental. Ayahandaku asli Rusia dan ibuku pun masih keturunan Tionghoa, sungguh tak diduga justru kehadiran mas Yusuf membuatku mencintai Islam dan membawaku ke dunia yang sesungguhnya. Dimana aku harus mencintai Allah dan beriman pada-nya. Meski di awalnya bukanlah hal mudah saat aku menjelaskan pada mereka (orang tuaku).
4 tahun yang lalu....
Sesosok laki-laki rapi yang berbicara di depan podium saat seminar kampus, berbicara dengan lantang. Aku saat itu menjadi salah satu mahasiswa yang duduk mendengarkan dia begitu tegas membicarakan soal politik. Kata-katanya membuatku luluh, ketegasannya membuatku terkagum-kagum pada pria berusia 27 tahun saat itu. Tak sekalipun aku memalingkan mataku kemana-mana, hanya pada sosok pria tampan yang berada di depan para Mahasiswa.
“Gissela Anastasya...”seru teman di sebelahku  . Aku sungguh kaget dengannya.
“ikh...Alice, aku  kaget tau.”bisikku.
“lagian kamunya serius amat. Awas loh falling in love nanti.”cetusnya sambil tersenyum. Aku merasa malu saat Alice mengatakan itu, entah mengapa...atau mungkin Alice benar aku telah jatuh cinta. Saat itu rasanya ingin sekali bertanya ‘kamu siapa? Tinggal dimana? Sudah punya pacarkah? Apa mau denganku?’.
“namanya siapa?” tiba-tiba mulutku refleks mengatakan itu. Alice tertwa kecil melihat tingkahku. Aku segera menutupi mulutku dengan kedua telapak tanganku.
“sudah aku duga!”jawabnya. “namanya Yusuf Ahmad Saleh, ada keturunan arabnya. Dia seorang pengacara, selain itu jiwa sosialnya tinggi banget. Dia punya berbagai macam yayasan, selain itu dia juga pintar sekali, dia itu lulusan terbaik fakultas Hukum ternama di Bogor. Tapi sayang...”Alice berhenti sejenak dan menghela nafas membuatku penasaran. “dia seorang muslim.” Tambahnya. Yah aku sudah duga, tanpa Alice mengatakan itu wajahnya telah mengatakannya padaku. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh, mengaguminya tanpa harus ia tahu.
“kenapa dia bisa jadi pembicara di kampus kita?”tanyaku betul-betul penasaran.
“jelas aku rasa dia adalah orang yang tepat untuk di jadikan tokoh Sosialis yang patut kita contoh mengingat kita adalah mahasiswa Sosiologi.”jawab Alice.

2 hari kemudian....
Entahlah tapi aku tak bisa membohongi perasaanku kalau aku bena-benar jatuh hati pada pria itu tapi aku tak sedikitpun punya kesempatan untuk lebih dekat dengannya. Setiap malamku habiskan hanya tersenyum menatap kaca ketika aku ingat senyum manisnya yang menari-nari di hatiku.  Rasnya dadaku sesak setiap aku ingat tak mungkin lagi ku menemuinya.
“tok...tok...tok...”suara ketukan pintu dari balik kamarku.
“Gissel...”seru mama di balik pintu.
“iya ma...”aku segera membukakan pintu untuk ibuku. Ibuku menggeleng ketika melihatku masih mengenakan baju tidur.
“sekarang kan kita mau dinner sama lowyernya papamu. Bukankah mama sudah bilang tadi siang.”aku menepak kepalaku.
“Gissel lupa ma, Gissel gak ikut boleh gak ma?” Gissel yang sangat penurut tersenyum.
“jelas harus ikut. Dia hanya dua hari di Surabaya. Besok dia harus kemabali ke Bogor. Dia sangat berjasa untuk keluarga kita. Maka akan lebih baik jika kamu mau ikut serta.”jelas mamaku. Tiba-tiba sesosok pria tinggi putih abangku Ivanof mengehampiriku.
“kamu harus ikut, dia sahabat abang saat SMA. Dia sempat tinggal dengan neneknya dulu di Surabaya.”cetusnya. dengan sedikit malas akupun akhirnya mengganti bajuku. Aku betul-betul tak merasa penasaran dengan kehadiran pengacara ayahku, atau sahabat kakaku saat SMA. Akhirnya kami betul-betul harus menmuinya di sebuah restoran. Tibalah kami di restoran itu. Sesosok pria yang ku kenal duduk di meja yang sudah di booking papa. Aku sedikit kaget melihat sosok mas Yusuf. ‘apakah dia pengacara papa?’ . dia pun berdiri saat kami tiba di hadapannya, sosoknya yang santun membuat ku mati kutu di hadapannya.
“selamat malam om, tante, Van...”dan dia menatapku sekilas, mungkin ia ingin menyebut namaku namun ia tak tahu harus mengatakan apa. Pria itu menyalami papa dan Ivan. Hanya ia begitu menjauhkan tangannya ketika bersalaman dengan aku dan mama. Ia hanya tersenyum ramah ketika aku dan mama mulai merasa bingung dengan gaya salamannya. Kami pun duduk.
“oh iya, Suf...ini adikku Gissel. Dia masih kuliah smster akhir jurusan Sosiologi.”jelas Abang membanggakanku. Yusuf tak sedikitpun memandangku. Ia hanya tersenyum pada abangku.
 “mas Yusuf sempat jadi pembicara pada saat seminar di kampus.”kataku. dia kembali tersenyum, hanya memandangku sejenak. Aku mulai bosan dengan tingkahnya yang betul-betul tak mengharagaiku saat aku bicara, dia tak memandang wajahku sama sekali. Saat itu kekagumanku mulai berkurang padanya ku fikir ia ternyata tak sesantun itu. Malam itu kami cukup akrab dengan mas Yusuf. Kami pun lantas pulang setelah berbicang-bincang.

***
“kenapa harus aku?”tanyaku saat papa memintaku mengantar Yusuf. Papa yang tengah menikamati kopi hangat di hadapannya tersenyum.
“papa dan abangmu hari ini ada meeting penting tak enakkan kalau kita tak mengantarnya kebandara.”jelas papa.
“memangnya kenapa? Kamu merasa keberatan?”tanya mama mengasongkan sepiring roti panggang di hadapanku, akupun menggeleng. Aku segera mengambil satu lembar roti dan memakannya.
“jam berapa?”tanyaku sedikit malas. “ aku tak suka ketika dia tak mau bersentuhan denganku saat berjabatangan.”rengekku. tiba-tiba abang tertawa.
“jadi karna itu. Aku memang belum sempat jelaskan. Dalam ajaran muslim memang seperti itu, setidaknya kata Yusuf pada ku. Katanya haram bersentuhan dengan yang bikan mukhrimnya. Dia memang seperti itu. Dia sangat taat dengan agamanya. Katanya itu adalah bukti bahwa kepercayaannya itu mengajarkan untuk selalu menjaga kesucian wanita.”penjelasan bang Ivan membuatku kagum, ternyata aku salah memahaminya. Tak seharusnya aku bersikap seperti tadi tanpa tahu sebabnya.
“abang kok bisa faham gitu sih bang?”tanyaku.
“jelaslah 3 tahun aku berteman dengannya, saat aku bertanya dia selalu menjawab hal yang sama. Pantaslah aku sangat ingat.”jawabnya. “antar saja, dia tak akan pernah macam-macam denganmu.”

***
Dia pun naik ke mobilku ketika aku menjemputnya dikediaman neneknya. Di mengangguk ramah padaku namun tak satu katapun yang terucap. dia lantas duduk di sebelahku tanpa melirik ke arahku. Dia tampak sangat risih saat duduk berdampingan denganku di dalam mobil. Beberapa menit kami terdiam bingung sekali harus ku awali dengan pembicaraan apa.
“mas Yusuf sudah lama mengenal papa?”tanyaku.
“tentu saja. Dia kan ayah sahabatku.”jawabnya sembari tersenyum. Entah mengapa rasanya mendengar kata-katanya aku sungguh merasa teduh.
“oh...saya sangat suka mendengar mas Yusuf berbicara saat di kampus.”kataku.
“oh ya?”dia tersenyum lebih hangat. “apa yang Gissel suka? Apa merasa termotivasi?” ia mulai asik. Aku segera mengangguk.
“rasanya enak sekali di dengarkan dan ingin ikut mencoba seperti mas Yusuf.”jawabku.
“insyaallah pasti bisa, asal Gissel mau berusaha dan semangat terus.”jawabnya. aku memandangnya sejenak.
“mas belum berkeluarga?”tiba-tiba mulutku mengatakan itu, saat aku menyadari ucapanku dan mas Yusuf tersenyum. “oh maaf mas, rasanya saya lancang menanyakan hal itu.”
“tak papa, saya memang belum berkeluarga. Bukan merasa tak puas dengan apa yang saya capai sampai saat ini, tapi memang masih banyak ke wajiban yang harus saya tempuh. Saya juga sadar betul dalam agama saya menikah adalah sebuah ibadah tapi untuk saat ini saya belum menemukan sesosok teman hidup sekaligus teman ibadah.”jelasnya. aku sungguh merasa melambung. Inilah jawaban yang paling aku harapkan. Rasanya kenyamanan timbul saat kata demi kata keluar lembut dari mulutnya.
“masa sih mas Yusuf tak punya pacar...”ledekku.
“pacar? Bahkan saya tak pernah berpacaran.” Jawabnya, aku tertawa geli.
“mas Yusuf bisa aja deh.”aku kembali konsentrasi dengan mobilku yang ku kemudikan.
“pacaran itu tidak ada dalam keyakinanku. Hanya menikah yang di haruskan. Maka jika ku menemukan jodohku kelak yang akan aku lakukan adalah menikahinya lalu memacarinya bukan memacarinya lalu menikahinya karena hanya dengan begitulah kita dapat menjaga kesucian perempuan.”jelasnya. lagi-lagi aku di buat tak bisa mengatakan apapun, sungguh aku merasa malu sekali, seumur hidupku baru dialah laki-laki terbaik yang aku kenal. Waktu betul-betul terasa cepat berlalu. Kami pun tiba di Bandara Surabaya, aku mengantarnya sampai dalam.  Dia mengucapkan banyak trimakasih padaku dan pergi. Aku tak sempat menanyakan berapa nomor telponnya atau bahkan di mana ia tinggal. Memang sangat di sayangkan, tapi apakah berguna jika aku mengetahi itu semua? Toh dia tak mungkin mau padaku, dia jelas-jelas sangat taat dengan keyakinannya dan aku? Siapa aku baginya, aku hanya bisa menghela nafas dan menyerahkan semuanya pada takdir yang mungkin akan jauh lebih indah.

***
“mau menungguiku sampai selesai shalat dzuhur?”tanya Sarah teman sekelasku yang beragama muslim. Aku mengangguk. dia sangat heran dengan tingkahku belakangan itu yang sering sekali mengikuti aktifitas gadis berjilabab itu.
“gak papa kan Sar?”tanyaku. di memandangku lekat-lekat.
“memang tidak papa. Tapi jangan sampai orang peranggapan lain karena kamu sering mengikutiku ke mushola.”jawabnya.
“aku hanya senang saat mendengar suara adzan dan orang-orang bersujud dengan balutan mukena.”kataku. Sarah tersenyum padaku.
“baikklah, aku shlat dulu...aku akan segera kembali.”dia pun masuk. Aku hanya bisa melihat mereka di balik jendela mushola. Entah mengapa belakangan itu muncul prasaan yang tak aku duga. Saat mendengar gema adzan, melihat gadis-gadis berbalutkan pakaian muslim dengan jilbab yang menutupi kepalanya, mendengar Sarah mengatakan ‘Subhanallah...Alhamdulillah...lailahaillallah...Allahuakbar...Astagfirullah...’ rasanya damai dan ingin ikut mengucapkannya. Mungkin bagiku ini sangat aneh entah karena ucapan-ucapan dari mas Yusuf atau kah memang ini adalah ilham. Berusaha ku tepis semua perasaan ini, tapi semakinku tepis rasanya aku semakin rindu dengan semu itu.
“sudah selesai?” tanyaku 20 menit kemudian setelah Sarah duduk di sampingku di depan mushola. Ia mengangguk. wajahnya tampak berseri-seri setiap ia selesai melaksanakan shalat.
“apa kamu tak merasa gerah dengan mengenakan jilbab dan baju yang besar?”tanyaku. dia tersenyum anggun.
“tentu tidak, memangnya kamu pernah mendengar aku mengeluh soal bajuku?”dia kembali bertanya. Aku segera menggeleng. “aku merasa kamu belakangan ini cukup aneh. Bolehkah aku tahu ada apa?”tanya dia menatapku. Aku ikut menatapnya, ingin sekali bercerita soal apa yang aku alami.
“Sarah...menurutmu, perasaan apa ini? Ketika aku mendengar gema Adzan aku sungguh merasa damai, aku selalu iri melihatmu menutupi tubuhmu dan di segani oleh kaum lelaki.”tiba-tiba air mataku jatuh, aku tidak sedih tapi entah mengapa hidupku terasa masih ada yang belum lengkap. Sarah terdiam, ia tampak bingung. “apa yang harus aku lakukan Sar? Entah mengapa hatiku sangat ingin menjadi gadis-gadis seperti kalian. Apa aku salah?”
“entahlah tapi bukankan kah ini salah bagi apa yang kamu yakini Sel?”dia bertanya balik padaku. Air mataku semakin deras mengucur.
“ya ini sebuah penghianatan. Tapi aku tak bisa apa-apa dan tak bisa bicara pada siapapun selain padamu.”jawabku. “maka tolonglah aku Sar, apa yang harus aku lakuakan?” Sarah memelukku.
“jangan pernah menuruti hawa nafsu yang sesaat, yakinkanlah dirimu Sel...saat kamu merasa yakin maka aku akan selalu menolongmu.”jawabnya.

1 bulan kemudian....
Perasaan itu malah semakin kuat di fikiranku, aku mulai sering sekali membaca buku-buku tentang Islam. Aku kembali menemui Sarah dan menceritakan tentang yang aku alami bahkan mimpi yang meyakinkanku untuk menjadi seorang mualaf. Aku memaksa Sarah untuk mengajariku shalat. Rasanya amat sangat damai sekali dengan balutan mukena bersujud menghadap kiblat. Hatiku rasanya di penuhi ketentaraman yang luar biasa. Setelah selesai shalat aku dan Sarah berhadapan, ia menatapku dengan senyum anggunnya.
“apa kamu sidah bicarakan soal niatmu ini pada orang tuamu Sel?”tanya Sarah. Aku menggeleng. “jangan mengambil keputusan sendiri, mintalah izin pada orang tua mu!”
“mamaku pasti akan sulit menerimanya karena ia adalah orang yang taat, tapi papa memang tak pernah permasalahkan semua ini krena ia kebalikan dari mamaku. Aku akan mengatakannya setelah aku menjadi mualaf.”jawabnya. Sarah menggeleng.
“Gissel mereka orang tuamu, mereka berhak atas kamu dan berhak memberikan pendapat tentang semua ini.”katanya membelai wajahku yang kembali harus mengucurkan air mata.
“aku tahu Sar, tapi akan sulit jika itu ku lakukan terlebih dahulu, terutama abangku dia tidak akan semudah itu menerimanya.”
“aku hanya tak ingin kamu menyesal Gissel.” Aku memeluk Sarah erat. Dan aku menggelengkan kepalaku.
“kamu tahu akukan? Sekali aku mengatakan ingin maka akan ku lakukan, apalagi aku sudah yakin, aku juga yakin kamu dan Allah akan membantuku menuju jalan lurus ini.”aku tersedu-sedu.
Akhirnya aku berani jujur setelah 2 hari aku tak pulang, orang tua dan kakakku sangat kaget dengan keputusanku saat itu. Keributanpun terjadi air mata berjatuhan, kejadian emosional itu terjadi cukup panjang. Sampai mama berani mengusirku dari rumah dan bersumpah untuk tak mengangggapku putrinya lagi. Tapi entah mengapa bahkan aku tak mempunyai rasa takut sedikitpun. Allah memberiku ketegaran dan keteguhan saat itu. Tak ada tempat yang bias ku datangi hanya kediaman Sarahlah yang bias ku datangi. Aku memohon untuk diberi tahu alamat pesantren milik ayahnya di Bogor, meski sulit membujuknya tapi akhirnya dia mau memberikan alamat itu padaku. Malam yang mengerikan itu bahkan tak kurasa keteguhanku untuk pergi memperdalam islam sangat kuat hingga mengantarku kepesantren itu.
Allah memang memiliki rencana indah dibalik setiap cobaan yang umatnya alami. Setelah 1 tahun aku di pesantren aku kembali berjumpa dengan mas Yusuf. Dia kaget bertemu denganku disana dan dengan penampilanku yang berbeda. Kami berbicara banyak dan kucurahkan semua hingga tanpa kami sadari itu adalah jalan bagi kami untuk bersatu. Orang tuaku mulai bias menerima dengan ikhlas keputusanku dan menerima mas Yusuf menjadi pendamping hidupku.
“Bantu aku untuk Ikhlas mas…sesungguhnya aku sadar semua takdir hidupku Allah telah mengaturnya dengan rapi.” Aku berdiri dan meninggalkan makam itu dengan menuntun Fajar. Fajar tersenyum padaku. Hanya senyum itulah yang membuatku sadar bahwa masih ada kehidupan dimasa depan yang harus ku jalani.

Selesai

Created by Evi Andriyani

Kamis, 02 Februari 2012

Ayah...


AYAH…
            Aku Vegi, aku gadis mungil kebanggaan ayahku meski kini aku bukan lagi gadi mungil tapi bagi ayah meski aku sudah 27 tahun aku tetap gadis mungilnya. Dalam hidupku, dalam hembusan setiap detik dari nafasku hanya sosok Ayahlah yang ku kenal. Bukan aku tak ingin mengenal ibuku tapi hanya Ayahlah yang kulihat sejak aku membuka mata. Meski sosok ibu bagiku penting tapi Ayah selama ini sudah menjadi sosok ibu yang tak akan terganti. Ibuku menikah lagi dengan pria lain setelah bercerai dengan Ayah. Ayah tak pernah menjelaskan padaku mengapa mereka bercerai. Karna setiap kali ia berkaca-kaca jika aku bertanya soal Ibu, bagiku itu cukup menjadi alas an mengapa aku tak perlu tahu tentang keberadaannya, alasannya dan apapun.
            Sering sekali ku dapati wanita-wanita cantik yang mendekati ayah ingin menjadi istrinya tapi selalu ia tolak dengan halus, ia hanya bertutur. “saat ini dan sampai Vegi menikah aku tak ingin membiarkannya sendirian…” ayahku yang sangat tampan dan baik hati, selalu lembut hingga siapapun menyukainya. Bahkan wanita yang sempat ditolak olehnya pun tetap bersikap baik pada kami.
            Kini diusiaku yang ke 27 tahun dia benar-benar tak pernah meninggalkan aku dan membiarkan aku menjadi anak broken home yang biasa dialami para anak lain ketika mengetahui orang tua mereka bercerai.
            “Ayah…Vegi sudah 27 tahun, Vegi gak pernah berharap ayah akan terus hidup seperti ini. Ayah masih muda, Vegi gak pernah melarang ayah menikah…”kataku ketika kami saling berhadapan di meja makan sambil minum teh dan ditemani biskuit hangat yang 5 menit lalu ku angkat dari oven.
“Ayah tau kamu sudah dewasa tapi bagi ayah kamu tetap anak ayah yang tak bisa ayah tinggal, ayah tak ingin perhatian ayah terpecah belah…saat kamu sudah menemukan pria yang pantas untukmu saat itu juga ayah melepasmu dan mengikhlaskanmu untuk pria itu.” Mataku tak pernah bisa tertahan ketika ia mengeluarkan kata-kata itu. Ku rangkul ia dan ku cium pipinya.
“Ayah tau gimana aku tersiksa melihat ayah terus begini? Aku ingin ayah bahagia dan tidak kesepian…”bisikku. Dia ikut merangkulku dan mendudukanku di lahunannya dia tersenyum manis padaku.
“anak Ayah yang cantik…betapa beruntungnya ayah punya anak seperti Vegi hingga ayah tak pernah merasa kesepian…”ia membelai pipiku dan menghapus air mataku. “tolong tunjukan kalau Vegi ayah sudah dewasa dan sudah pantas di persunting orang…ini sudah saatnya Vegi menikah…”
“aku gak pernah nemuin laki-laki seperti ayah…”rengekku.
“putri tunggal ayah yang selalu manja…”dia tertawa. “tak akan ada manusia yang sama di dunia ini…ayah akan selalu milikmu jadi untuk apa kamu mencari orang yang sama…perbedaan itu indah, perbedaan adalah cara agar kita saling mengisi satu sama lain…!” tangisku semakin pecah, sungguh Ayah adalah anugrah terbesar yang di hadiahkan Allah untukku. “tapi janji sama ayah jangan pernah hidup seperti ayah…”
“Ayah…”bentakku. Ia tertawa dan memelukku erat.
“hiduplah seperti keluarga lain yang bisa membesarkan anaknya bersama…ayah selalu berharap hal demikian. Jangan kecewakan ayah…” aku mengangguk segera.
Setidaknya perbincangan itu menjadi motivasi bagiku. Meski sebetulnya aku tak pernah menginginkan kehadiran laki-laki lain selain ayahku dalam hidupku tapi takdir manusia tetaplah berpasangan, takdir manusia adalah mengikuti kehendak dari maha kuasa. Usiaku sudah sangat matang untuk menjalani pernikahan dan ayahpun sudah memberikan izin sejak aku usia 25 tahun.
Aku tak ingin gegabah dalam memilih jodoh. Aku selalu percaya ayah akan selalu memberikan yang terbaik padaku, hingga ia memperkenalkan Arick padaku. Hal yang aku heran adalah mengapa ia tega mengenalkanku pada pria yang sudah menikah namun pria itu baru saja berusia 30 tahun. Ia tampan dan tinggi seperti ayah. Ia pekerja keras, sopan dan religious.
“ayah gak sakitkan?”bisikku pada ayah ketika Arick ketoilet saat kami mengadakan pertemuan di sebuah restoran jepang. “dia duda dan aku bahkan gak pernah nikah…”
“memangnya kalau dia bujang kamu bisa pastikan dia bujang?”canda ayah. “dia duda yang ditinggal meninggal oleh istrinya…sudah 5 tahun dia sendiri setelah kematian istrinya…jangan pernah melihat seseorang dari statusnya. Ayah tau Arick dan ayah berbeda dan ayah tak mungkin memperkenalkan kamu pada laki-laki yang menurut ayah tak baik untuk putri ayah. Hanya Arick yang bisa membuat ayah tenang melepasmu nak!” jelasnya.
Sejak saat itu tak peduli apapun meski itu hal kecil ayah akan selalu ku dengarkan, karena aku tak bisa membahagiakannya setidaknya dengan mendengarkan apa yang diinginkannya ayah bisa tenang. Meski sedih, meski di matanya tampak takut tapi ayah tersenyum padaku dan mengepalkan tangannya padaku untuk memberiku semangat. Tapi aku bisa dengan jelas melihat kalau dia terluka melepasku.
Saat aku menikah dengan Arick adalah saat-saat tersedih yang pernah aku alami. Dia duduk melepasku dengan ijabkqabul yang diucapakannya dengan Arick. Ayahku yang tegar dan selalu mengembangkan senyuman kini tersendat-sendat menanhan tangis. Matanya berkaca-kaca. Ia menangis saat aku memeluknya setelah ijabqabul. Dia memelukku erat dan menciumku.
“sekarang kamu punya dua laki-laki di hidupmu nak…dan ayah harus rela mengatakan ini, bahwa kini yang jadi prioritas utamamu adalah suamimu, patuhlah padanya, dia adalah imammu...orang yang harus kamu ikuti dari belakang. Ayah adalah orang ke dua bagimu nak saat ini, dan tugas ayah sekarang hanya melihatmu bahagia…tugas ayah selesai, Arick akan mengganti posisi ayah…Ayah sayang sama Vegi…sayang sampai ayah tak tau harus mengungkapkan apa lagi…”bisiknya saat aku bersimpuh dikakinya setelah ijabqabul selesai.
“Vegi juga sayang sekali sama Ayah…”
“nak Arick…jaga anakku dengan sepenuhh hatimu…lindungi dia seperti aku melindunginya…aku serahkan putriku padamu…” Arick menganggunk dan mencium tangan ayahku…
Tak ada yang bisa menyadari betapa besar kasih sayang seorang ayah pada anaknya meski kebanyakan ayah tak menunjukan itu tapi tidakkah kau sadar bahwa ayah akan selalu menjagamu dan menjadi algojomu disaat kau tertindas, ayah akan pura-pura kalah saat bermain denganmu, ayah selalu ingin hidupmu berbeda dengan hidupnya dan selalu ingin kau lebih baik darinya. Ayah sudah mengucapkan ikrar yang seharusnya ia ucapkan. Ia melepasku demi kewajiban yang harus ku jalani setelah berumah tangga. Ayah…sosok itu sangatlah penting, cintanya tak pernah salah…cintanya hanya ingin kau lebih baik dari haidupnya….

Selesai