.fb_like_box { -moz-border-radius:5px 5px 5px 5px; border-radius:10px; background:#f5f5f5; border:1px dotted #ddd; margin-bottom:10px; padding:10px; width:500px; height:20px; }

Entri Populer

Rabu, 14 Desember 2011

Postingan ke II nih...


Imanku
“buka jilbabmu itu!!!”bentak Abah menarik jilbab yang di kenakan Siti Maemunah. “kau fikir, kau ini anak siapa? Seenaknya kau mengatakan mencintai orang yang tak seiman dengan kita.”
            Mae begitu ia di sapa hanya bisa menangis di dalam pelukan ibunya yang mencoba menenangkan Mae.
“abah hentikan!!!” umi berusaha menghalangi abah yang berusaha menarik tangan Mae.
“dia harus di beri pelajaran mi...”abah semakin kuat menarik Mae.
“ampuni saya abah...!”tangis Mae tumpah ruah bah air mancur di bunderan HI. Tapi abah tak berhenti sampai Mae berhasil ia tarik masuk ke dalam wc. Abah mengguyur kepala Mae dengan air lantas mengwudhukannya. Abah menatap mata Mae dalam-dalam dengan mata berkaca-kaca.
“minta ampunlah pada Allah, cintailah Allah melebihi apapun! Sesungguhnya abah sangat takut kau berdosa nak.” Dengan tersedu-sedu Mae mencium tangan ayahnya.
“terimakasih abah...”
***
Mae pun bersimpuh menghadap kiblat, ia dengan khusyuk shalat Isya dan mengaji dengan berlinangan air mata. Ia sangat menyadari dosanya kepada Allah. Gadis berusia 20 tahun itu nyaris terperangkap dalam indahnya cinta yang sesaat. Sesosok kakak kelas yang baru saja menyelesaikan sidang S2nya melamar Mae, salahnya dia adalah orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Padahal sudah lama Mae mengidamkan pria baik seperti itu. Adalah Daniel Christian dari namanya saja sudah sangat jelas kalau mereka berbeda, Daniel berusia 27 tahun. Selain rupawan, dia juga sangat darmawan. Ketika kehidupannya terpaut pada seorang pria idaman yang ia nanti tapi Mae harus menguburnya dalam-dalam karena mereka sangat berbeda.
“ya Allah ampunilah aku, hukumlah aku. Sesungguhnya engkau maha pengampun. Mulai saat ini akan ku pasrahkan segalanya padamu. Hidup dan matiku hanyalah untukmu. Maka ingatkanlah aku jika aku melakukan dosa ya Allah...dan mohon bantulah aku ya Allah, untuk menolak Daniel dengan cara yang benar dan tidak menyakiti siapapun. Ikhlaskanlah aku ya Allah...amin...” Mae menghapus air matanya dengan mukena putih yang melekat di tubuhnya.
***
Esoknya....
Mae menghampiri Daniel yang telah menantinya dengan seorang teman. Seperti pinta Mae sebelumnya, ia akan selalu menemui Daniel apabila ada orang ketiga agar tidak menimbulkan fitnah.
“Assalamu’alaikum...” mereka berdiri ketika Mae mengucap salam dan berada di antara mereka di ruang serbaguna itu. Daniel sudah sangat faham betul harus menjawab apa ketika ada yang mengucapkan salam.
“wa’alaikumssalam Mae...duduklah!”merekapun duduk berhadapan. Tapi Mae tak pernah sekalipun menatap mata Daniel.
“maaf sudah membuat kak Daniel menunggu selama 1 minggu ini...” Mae mengawali perbincangan.
“saya sangat faham, kamu pasti harus memikirkannya dengan sangat matang. Karena saya tahu betul masalah apa yang akan kita hadapi.” Daniel menatap wajah Mae yang tidak sedikitpun menatap wajah Daniel. Mae hanya merunduk.
“Bismillah...” Mae mengghela nafas. “sesungguhnya niat kak Daniel sangatlah mulia untuk melamar seorang gadis. Tapi Mae sangat meminta maaf, Mae tidak bisa menerima pinangan dari kak Daniel. Bukan Mae tidak ingin memperjuangkannya. Tapi perbedaan kita bukanlah persoalan yang kecil. Ini sangat penting bagi kehidupan pribadi kita masing-masing, yaitu kepercayaan. Mae hidup di lingkungan Islam sejak Mae lahir dan keluarga Mae merupakan tokoh agama yang sangat taat. Begitupun sebaliknya dengan kak Daniel. Jangan sampai kita menghianati agama kita dan mendzalimi diri kita sendiri.” Mata Mae berkaca-kaca di tambah sinar dari jendela yang menyoroti wajahnya, matanya terlihat bening dan menyejukkan. Daniel tak melepaskan pandangannya dari Mae dan untuk pertama kalinya Mae memandang mata Daniel namuan sesaat sekali, Mae seolah ingin menyampaikan “Andai Mae dan kak Daniel sama...” Daniel seolah bisa membaca tatapan Mae itu.
“saya mengerti...terimakasih telah mempertimbangkannya. Akan sangat beruntung laki-laki yang kelak bersamamu, andai saja kita sama...”Daniel merunduk. “tapi inilah kodrat kita. Saya sangat menghargai keputusan kamu.” jawabnya.
Teman Daniel ikut hanyut dalam kemurniaan kisah cinta mereka. Mae pun bangkit dari tempat duduknya,.
“saya pamit pulang kak... maka, saya pasti akan mendoakan kak Daniel untuk mendapatkan gadis yang seiman.”Mae membalikan badannya. Air matanya barulah bisa jatuh ketika ia membalikan badannya dan berjalan pelan-pelan.
“wa’alaikumssalam...”
“asstagfirullahaladzim...ampunilah aku ya Allah...” bisik Mae pada dirinya sendiri.
2 minggu berlalu....
Cetrine teman sekelas Mae yang juga adik Daniel memberi Mae sebuah undangan pernikahan. Ia sengaja mengantarkannya sendiri ketika di kelas.
“sebelum melamarmu...mami telah lebih dulu menjodohkan abang dengan Angel. Karena papi kami telah meninggal, jadi abang harus segera di kawinkan sesuai dengan pinta papi sebelum beliau meninggal. Tapi abang bilang ia tak ingin di jodohkan sebelum gadis pilihannya menolaknya. Abang tidak memiliki pilihan lain. Aku dan mami tahu betul gadis itu kamu, kami tidak pernah mempermasalhkan itu semua. Tapi sekarang, abang hanya ingin kamu datang dan menilai gadis bernama Angel itu. Datanglah dan doakan abangku!” Cetrine lirih menatap Mae iba.
“insyaallah...aku akan datang dan akan selalu mendoakan abangmu...” meski dalam hati Mae rasanya sakit tapi ada rasa lega karena ia yakin pilihan keluarga Daniel adalah yang terbaik bagi Daniel. Mae menggenggam tangan Catrine dengan lembut.
***
“abah...umi...akankah abah serta umi mengizinkan Mae untuk hadir di resepsi pernikahan kak Daniel?” Mae merunduk di hadapan kedua orang tuanya saat mereka sedang makan malam.
“pernahkan abah melarangmu untuk mengucapkan selamat dan mendoakan mereka?” abah balik bertanya sambil tersenyum. Mae mengangkat kepalanya dan membalas senyum abahnya, umi ikut tersenyum.
“kak Daniel juga mengundang abah dan umi untuk hadir. Mereka mengadakan resepsi di hotel, dan insyaallah makanan di sana juga halal.”jelas Mae dengan semangat,
“iya, tapi jika kau ragu untuk memakannya maka janganlah kau makan.”abah menyuapkan nasi ke mulutnya. “ingat toleransi itu harus tapi jangan sampai menggoyahkan pendirian kita,  Pergilah dengan umimu, abah ada undangan yang sudah terlebih dulu mengundang abah. Sampaikan saja salam abah untuk mereka.” Jelas abah. Mae dengan segera mengangguk.
Hari itu pun tiba....
Meski sedikit sulit memerangi perasaannya tapi Mae sangat berusaha dan beristigfar sepanjang perjalanan menuju hotel. Umi sebagai seorang wanita memahami betul perasaan Mae yang selama di dalam taksi terlihat tegang dia segera menggenggam tangan putrinya.
“bersyukurlah...Allah masih sangat menyayangimu, Allah tidak ingin kau berpaling darinya dan lebih mencintai orang lain. Kau masih punya Allah. Doakanlah dia!!!” umi sangat lembut, Mae menyender ke bahu umi yang membuatnya sangat nyaman.
Tibalah mereka....
Umi tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dari Mae. Tamu-tamu lalu-lalang di hadapan mereka. Banyak sekali kalangan yang hadir mulai dari para pejabat, pengusaha, mahasiswa, santri dan sebagainya. Karena Daniel termasuk orang yang supel dan tak pilih-pilih teman. Mae dan umi melangkahkan kakinya ke dalam hotel yang megah dengan dekorasi  yang indah. Terlihat dari kejauhan Daniel dan Angel di singasana mereka, menyalami para tamu undangan yang hadir. Mereka tampak bahagia dan memang itulah seharusnya. Sampailah pada gilairan Mae dan umi, dengan senyum bahagia Mae menepukan kedua tangannya di balik jilbabnya yang panjang,
“selamat ya kak...abah menyampaikan salam dan permohonan maafnya karena tidak bisa hadir.”Mae tersenyum hangat. “istri kak Daniel cantik sekali...”bisik Mae. Angel sangat heran melihat gaya salaman mereka yang dalam jarak yang jauh.
“terimakasih Mae, kamu telah hadir di pernikahanku. Sampaikan juga terimakasih untuk abahmu...” jawab Daniel. Mae pun merangkul Angel setelah Daniel menyelesaikan ucapannya.
“selamat ya...”
“terimakasih mbak...”angel tersenyum ramah, wajah orientalnya tampak cantik dengan make-up sederhana dengan gauh putih.
“selamat ya nak...semoga bahagia selalu...”kata umi.
“teriamakasih ibu...” Daniel menjawab rengkuh ucapan dari umi. Setelah itu mereka lantas pergi tanpa menyantap apapun. Mereka sudah cukup senang dapat hadir di pernikahan Daniel dan mengucapkan selamat padanya. Mae tidak menyesal dan tidak akan pernah menyesal mengambil keputusan untuk menolak Daniel. Ia malah sangat bersyukur sekali, abahnya selalu mengingatkan Mae. Kini ia sadar, sebesar apapun, setampan apapun, sesempurna apapun orang yang akan menyunting kita jika kita harus membayarnya dengan mengorbankan keyakinan kita. Maka Mae lebih ikhlas melepaskan cintanya dan menyerahkan segalanya pada Allah sebagai tanda imanya kepada Allah.

Selesai


Created by:
Evi Andriyani








Senin, 12 Desember 2011

Twins Berry & Barra




“brengsek lo Bar...Alanis itu cewek gue...!” Berry memukul saudara kembarnya dengan kepalan tangannya. Tak mau kalah dengan saingannya sejak bayi, Barra membalasnya dengan tenaga penuh.
“lo jangan maen hakim sendiri donk bro...lo tanya aja si Alanis langsung, dia yang nembak gue. Teriak Barra yang membuat orang tuanya terbangun dari tidur mereka.
“eh, gak mungkin Alan nembak lo ya, dia tuh cewek yang punya harga diri.” Bentak sang kakak yang hanya berjarak 1 jam saja.
“lo tahu apa soal Alanis? Yang sekelas sama dia tuh gue.” Mereka salaing tindih dan memukul di dalam kamar itu.
“eh...jelas gue tahu dia.”teriak Berrry. Orang tua mereka pun tiba di kamar.
“Berry...Barra...!!!”teriak orang tua mereka bersamaan saat mereka meliaht kenyataan bahwa anak kembar mereka sedang saling menyakiti. Papa dengan segera bertindak memisahkan mereka dengan menyered mereka bah seekor kucing.
“apa-apaan ini?” bentak papa. Berry dan Barra terdiam, mereka merunduk. “jawab!!!” tegas papa.
“Berry nuduh aku pah...” Barra menunjuk ke arah Berry.
“apa maksud lo??? Lo yang duluan cari masalah sama gue...” Berry menendang kaki Barra.
“aww...sakit gila!!!”teriak Barra.
“Berry...Barra!!!” bentak mama. Kalian tuh apa-apaan sih? Kalian itu saudara, harusnya kalian saling sayang tau gak??? Mama susah payah ngandung kalian, ngelahirin kalian, mama kasihi kalian dengan kasih sayang yang sama. Tapi mama bener-bener gak habis fikir, kenapa sih kalian gak pernah akur? Selalu saja ada persaingan-persaingan sengit. Seharusnya kalian saling mendukung. Kalian udah gede, udah 17 tahun, udah SMA, udah gak pantes berantem-berantem lagi. Kalian harus saling sayang. Berry itu adalah bagian dari diri Barra, dan begitu sebaliknya.” Jelas mama sambil memangku tangan. Barra merunduk sambil melap darah di sudut bibirnya.
“mama benar, ayo salaman!!!” papa mendorong mereka hingga mereka berhdapan.
“Barra yang salah...!!!” rengek Berry.
“ya gak bisa gitu donk...lo mukul gue duluan...” Barra mengibaskan tangan Berry yang menunjuk-nunjukan tangan ke wajahnya.
“dua-duanya salah...kalian bilang maafnya bersamaan...ayo!!!”tambah papa. Merekapun bersalaman meski dengan mata penuh dendam.
“sorry...!”kata mereka bersamaan. Mama menggeleng.
“peluk donk!!!” mama tersenyum. Mereka pun berpelukan, meski hanya sesaat.
“lain kali, selesaikan dengan hati. kaliankan saudara...gak ada saudara yang nyakitin saudarnya sendiri.”tambah papa.
Persaingan mereka belum berakhir sampai di situ, selain masalah cewek selalu ada saja yang mereka rebutkan termasuk dari pelajaran meski mereka tidak satu kelas, dari bakat, bahkan berlomba mencari perhatian kedua orang tuanya. Meski mereka kembar mereka tak pernah mau di samakan, mereka juga paling gak suka jalan bareng.
Esoknya di sekolah....
Berry memanggil Alanis & Barra untuk membicarakan masalah yang semalam mereka ributkan. Mereka bertiga duduk di kursi taman sekolah. Alanis duduk di tengah-tengah diantara Berry dan Barra.
“Al...gue gak bisa terima saat gue denger lo jalan sama dia...”Berry menunjuk ke arah Barra, Barra hanya senyum. “jelasin ke dia kalau lo itu cewek gue!” Berry menggenggam tanagan Alanis. Alanis menatap Alanis heran.
“kapan kita jadian Ber???” Alanis balik bertanya. “gue rasa kita gak pernah jadian Ber...” alanis menggeleng. Barra tertawa dengan puasnya.
“lo ingetkan Al pas gue nyatain perasaan gue ke elo waktu itu?”desak Berry.
“iya gue inget...tapikan gue belom sempet jawab Ber...” Alanis menatap mata Berry.
“jadi lo ngajak gue kesini cuma mau mempermaluin diri lo sendiri. Gue kasian banget sama lo brother...yuk Al, gak usah peduliin dia, kita kekelas.” Barra menarik tangan Alanis.
“ya udah gak masalah Al kalo selama ini lo anggep kita gak jadian, tapi gue mohon lo pilih antara gue sama Barra.” Berry tampak sedih.
“jelas dia pilih gue donk Ber...dia pernah bilang kalau dia suka sama gue.” Barra segera menjawabnya.  Alanis mellepas tanagan mereka berdua.
“maafin gue Ber, gue rasa lo berdua salah faham. Gue emang suka sama kalian berdua tapi cuman sebagai sahabat gue. Masalah suka, gue emang sempet suka sama lo Bar, tapi buat gue denagn nerima salah satu dari kalian itu artinya gue rusak hubungan persaudaraan kalian.”jelas Alanis. Alanis pun menggenggam tangan mereka berdua. “gue gak bisa...gue gak bisa milih diantara kalian berdua. Kalian tuh temen-temen gue. Kalian harus akur ok!!!” Alanis melemparkan senyumannya pada mereka berdua. Alanis pun pergi. Berry benar-benar kelihatan hancur. Berbeda dengan Barra yang tampak biasa saja, karena ia tak pernah sungguh-sungguh mencintai Alanis, ia hanya ingin merebut Alanis dari tangan Berry, seperti yang pernah Berry lakukan padanya.
“ini gara-gara lo tau gak!!!” Berry bangkit dari tempat duduknya. Barra hanya tertawa dan menepak pundak Berry.
“kita impas donk...!” ledek Barra.
“lo puas?” Berry menatap Barra tajam. Barra pun ikut berdiri hingga mereka berhadapan.
“sejauh ini kita selalu bersaing dan selalu saling balas tanpa peduli apapun. Tapi masalah Alanis gue gak bisa terima Bar. Dia firts love gue, dan lo hancurin dengan mudahnya. Gue sangat butuh dia sementara lo gak bener-bener butuh dia. Lo cuman pengen diri lo puas.” Berry pun meninggalkan Barra. Barra terdiam ada sedikit penyesalan didadanya. Barra tidak pernah melihat Berry seserius itu.
***
Hari berganti hari, Berry tak pernah mengeluarkan suaranya entah di rumah maupun di sekolah. Bahkan Berry selalu berusaha menghindari Barra setiap kali Barra mengganggunya. Berry terkesan tak peduli lagi dengan prestasi-prestasi yang di perlihatkan Barra padanya. Bahkan Berry sudah tak memperdulikan lagi nilai-nilai ulangannya yang terus merosot. Perasaan bersalah Barra semakin memuncak setiap kali Berry menghindarinya dan memperlihatkan wajah sedihnya.
“kalian belakangan ini tumben sepi-sepi aja?” mama mengawali perbincangan saat makan malam itu.
“bukannya mama pengen kita kayak gini?” Barra balik bertanya.
“kelihatannya Berry murung terus. Kenapa Ber?” tanya papa. Barra langsung menatap Berry seolah ia juga penasaran apakan Berry akan bereaksi ketika papa bertanya.
“gak papa. Aku udaha kenyang...aku ke kamar duluan.”jawab Berry sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauh daari meja makan.
“aku juga kenyang. Aku mau ke kamar Berry dulu.” Barra mengikuti Berry dari belakang. Orang tuanya hanya berpandangan melihat tingkah aneh anak-anaknya. Barra pun duduk di samping ranjang Berry sementara Berry terbaring membelakanginya. Ia menepak-nepak kaki Berry, barra mulai merasa kesepian karna teman berantemnya sedang sibuk dengan perasaanya.
“Ber...hari ini nilai ulangan gue paling tinggi loh di kelas.” Barra berusaha memancing agar Berry marah. “Ber, nilai lo jelekkan sekarang...payah lo...gara-gara cewek aja lo ampe segitunya.” Ledeknya. Tapi Berry pun bangkit.
“diem lo!!! Tau apa lo soal hidup gue? Mulai saat ini gue udah gak peduli lagi sama nilai gue, persaingan-persaingan kita, taruhan-taruhan kita, lo sama gue...gue udah gak peduli lagi. Jadi lakuin aja apa yang lo suka. Sekarang lo bebas tanpa bayang-bayang persaingan. Ngerti lo...!!!” bentak Berry meninggalkan Barra di kamarnya sendiri. Barra tanpak sedih, padahal ia sangat ingin melihat saudaranya ceria dan semangat seperti sebelumnya. Bara menutup mata sejenak, berusaha mencari jalan keluar agar saudarnya kembali seperti semula.
“yang bisa bikin Berry balik lagi kayak dulu cuman Alanis...” bisiknya pada dirinya sendiri.
***
“ada apa sih Bar??” rengek Alanis ketika Barra menyerednya keluar dari kelasnya.
“Al gue harus ngomong sama lo...” Barra terus menarik tangan Alanis menjauh dari kelasnya dan mereka pun duduk di taman sekolah.
“ada apa Bar?” tanya Alanis yang mulai penasaran.
“gue mohon jangan hindari Berry!!! Tolong gue...”Barra menggenggam tangan Alanis. “bilang sama dia kalo lo juga cinta sama dia. Lo berarti banget buat dia.” Alanis melepas tangan Barra dan menatapnya.
“gue gak bisa Bar...lo udah gila ya!!!”bentak Alanis.
“lo harus bisa Al. Gue yakin lo juga punya perasaan yang sama kan sama Berry.” Tegas Barra.
“lo tahu apa soal perasaan gue? Asal lo tahu aja, kalo aja waktu itu gue harus milih, yang gue pilih itu elo bukan Berry. Tapi nyatanya apa, gue care sama persaudaraan kalian dan pada akhirnya gue putusin buat gak milih siapa-siapa.” Alanis bangkit dari tempat duduknya, Barra pun ikut berdiri dan mereka saling berhadapan.
“apa bedanya gue sama Berry? Toh kita kembar identik. Dengan lo terima dia artinya lo milikin gue yang ada di raga Berry kan? Lo bisa anggap Berry itu gue. Please Al...” Alanis pun menampar Barra.
“lo fikir gue apa? Ternyata lo hanya menilai cinta sampai sesempit itu ya Bar, cinta itu gak harus di miliki Bar. Asal lo liat orang yang lo cinta bahagia lo juga akan bahagia. Keinginan memiliki itu bukan cinta. Asal orang berwajah sama aja lo fikir perasaan juga akan sama? Enggak Bar, meski lo identik, meski sifat kalian sama tapi perasaan gue tetep bisa bedain.” Alanis pun meninggalkan Barra.
“sorry Al...Al gue mohon...gue janji akan lakuin apapun...”teriak Barra. Alanis pun berbalik.
“termasuk berendam di danau malem-malem???” Alanis tahu betul Barra paling menakuti danau karna ia sempat tenggelam di danau saat masih TK, dan Barra juga takut sekali kegelapan.
“gue gak pecanda Al...”teriaknya.
“lo fikir gue pecanda??? Danau belakang sekolah kayaknya tempat yang pas tuh...” Alanis pun berlari meninggalkan Barra.
“ok...gue bakalan buktiin ke elo...! jam 8 gue stay di sana. Tapi lo juga harus janji Al...”Barra teriak-teriak tapi Alanis tak menggubrisnya ia terlanjur kecewa dan Alanis juga tahu Barra tak akan berani.
***
“Ber kamu liat Barra gak?” tanya mama menghampiri Berry yang sedang santai di kamarnya.
“enggak mah, emang kenapa?” Berry balik bertanya.
“tumben banget dia belum pulang...biasanya kan kalau pergi-pergian dia suka nelpon dulu.”mama tampak khawatir. Berry juga merasakan perasaan yang tidak enak sejak satu jam yang lalu.
“perasaan aku juga gak enak mah...” Berry memegangi dadanya.
“aduh gimana donk ni...”mama terus mondar-mandir.
“aku telpon temen sekelasnya dulu deh mah, soalnya tadi aku liat Barra bareng sama dia.”jawab Berry.
“ya udah...mama juga mau nelpon papa dulu, suruh cari tuh anak.” Mama pun pergi ke ruang tengah. Sementara Berry berusaha menghubungi Alanis.
“halo Al...” Berry bergetar.
“iya Ber, lo pasti mau nanyain tanggapan gue soal tadi Barra mohon-mohon ke gue.” Alanis sedikit tersenyum.
“maksud lo apa Al?” tanay Berry.
“gak usah pura-pura gitu deh Ber, Barra bener-bener udah bikin gue ilfil tau gak. Dia mohon-mohon tadi siang sama gue supaya gue mau nerima lo.” Jelas Alanis.
“apa??? Sumpah ya Al, gue gak pernah nyuruh dia buat dateng nemuin lo apalagi mohon-mohon supaya lo neriam gue. Gue cuman mau nanyain aja apa Barra sama lo, dia belom pulang sekolah sampe sekarang.”bentak Berry. “satu hal lagi gue sekarang udah gak peduli lagi sama lo, ngerti lo!!!” Alanis terdiam,saat Berry hendak mematikan telponnya tiba-tiba  ia teringat ia sempat menantang Barra tadi siang.
“tunggu Ber, gue rasa gue tahu Barra diamana?”
“diamana?”Berry sanagat antusias.
“sekarang jam berapa?”Alanis sedikit panik.
“kenapa lo jadi nanyain jam sih? Gue nanyain kembaran gue dimana?”bentak Berry.
“Ber,sekarang jam 10 kan????”Alanis tambah panik sambil melihat jam dindingnya.”gue rasa dia ada di danau belakang sekolah. Soalnya tadi gue candain dia, gue bakalan terima lo kalau dia berendem di sana jam 8. Berarti dia udah berendem sekitar 2 jam kan???”
“apa??? Lo udah gila ya Al. Lo jugakan tahu Barra takut banget liat danau jangankan danau kolam ikan aja dia suka takut. Apalagi malem-malem.”Berry sangat marah.
“maafin gue Ber...gue fikir Barra gak akan berani.”Alanis terdengar menangis.
“ah...elo!!!”Berry mematikan telponnya. Ia segera berlari menjuju danau sekolah. Butuh waktu yang lama untuk sampai ke sana dengan berlari. Berry sangat menyesal karna ia telah mengabaikan saudaranya belakangan ini. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada adik kembarnya. Meskipun selama ini mereka tak pernah akur tapi dalam hati mereka masing-masing terdapat cinta yang amat besar untuk saudaranya. Tibalah Berry di sana...
“Bar...Bar...!!!”teriaknya celingukan mencari kesana-kemari. Berry menyisir setiap sudut danau dan akhirnya ia melihat sebuah kepala yang nyaris mengambang. Segera Berry menloncat ke dalam danau, ia mengusir jauh-jauh rasa takutnya dan menghampiri kepala itu.
“Barra!!!” Berry menarik tubuh Barra dan membawanya ke darat. Berry berusaha mengeluarka airi tubuh Barra. Sesekali ia memberi nafas buatan untuk saudaranya. Untunglah Barra masih bisa bernafas dan ia bangun. Tubuhnya gemetar karna kedinginan.
“bodoh lo. Buat apa lo lakuin hal bodoh kayak gini.” Bentaknya.
“Berry...gue...gue...”suara Barra serak dan ia menjatuhkan air mata. “maafin gue, gue gak maksud nyakitin lo. Gue mohon jangan sedih lagi.” Berry segera memeluk saydaranya. Untuk yang pertama kalinya mereka lakukan itu denagn sepenuh hati mereka.
“gue yang harusnya menta maaf, gue udah egois. Jangan kayak gini lagi. Gue khawatir sama lo.” Berry melepas pelukannya dan memasangkan jaket ke tubuh adiknya yang basah.
“badan gue ngilu semua.”rengeknya.
“ayo...!”Berry jongkok dan membelakangi Barra.
“mau apa lo?” tanya Barra.
“di saat –saat kayak gini gak ada waktu buat jaim. Ayo naik!!!” dengan malu-malu akhirnya Barra naik ke gendongan kakak kembarannya. Merekapun berjalan pelan.
“lain kali jangan bikin gue khawatir lagi ya!”kata Berry. Barra mengangguk.
“lo juga, lain kali jangan sedih lagi ya! Gue gak bisa liat lo sedih...lo tahu gue jadi ikut sedih.”jawab Barra.
“mulai saat ini gue udah putusin buat jadi Berry yang baru. Masalah dulu gue udah gak mau lagi bersaing sama lo, bukan karna gue patahati tapi karna sejauh ini gue udah fikirin kalau kita harusnya jangan saling bersaing sampe kayak musuh tapi saling mendukung dengan kemampuan kita masing-masing. Gue akuin lo hebat dalam urusan cewek jadi gue gak akan campurin itu.”jelas Berry. Barra tersenyum.
“iya, gue juga jadi sadar...gue juga gak bisa paksain kalau yang jago matematika itu elo bukan gue...”Barra tertawa. Mereka berdua tertawa bersama. Meski sejauh apapun hubungan di antara mereka selama ini tapi dalam hati mereka, mereka selalu saling merindukan dan menyayangi. Perasaan sedih yang di alami Berry terasa sekali oleh Barra dan rasa sakit Barra terasa juga oleh Berry. Itulah gunanya saudara...itulah si kembar Berry dan Barra...

Selesai












Created by :
Evi Andriyani



Introduce mySelf

Selamat Pagi...

Salam kenal...seneng banget akhirnya blog baru jadi juga...hehe. firstly, nama aku Evi Andriyani, ughhh sunda sangat ya nama aku. itu nama kebanggaan aku loh kawan, kenapa??? karena itu nama yang di berikan almarhum bapaku. biar lebih akrab panggil saja diriku ini Mvie atau mama biasa panggil Vivi. Aku seorang mahasiswa (insyaallah) ^_^ . aku gadis rumahan yang suka sekali berimajenasi, pokonya aku orang yang sangat simpel deh...
Aku suka banget nulis dan Sebenernya aku punya banyak cerepen and gak tau harus dimuat di mana, jadi ku putuskanlah untuk buat blog sendri, semoga ada yang minat bacanya and ga bikin borring. sekalian belajar ngeblogg juga. hehe.